Kamis, 15 Oktober 2009

Fitrah Cinta

Sungguh kita tak pernah tau kemana akhir perjalanan kita.
Masa depan adalah ghaib,
dan itulah cara Allah mencintai hamba-hambaNya,
memberikan kejutan demi kejutan,
agar kita merasa takut dan harap,
agar kita merasa sedih dan gembira.
Semata untuk mengajarkan kita akan arti cinta yang sebenarnya.
Allah begitu bahagia dengan luapan emosi di setiap pencarian kita yang ujungnya adalah Dia.

Oleh karena bukti cinta adalah kecenderungan,
maka fitrahNya sebagai raja menginginkan kita untuk bergantung hanya padaNya.
Dia yang memerintahkan kita untuk menghadapkan wajah ini secara lurus kepadaNya,
agar terbukti siapa diantara kita yang benar benar tulus mencintaiNya,
dan siapa pula diantara kita yang mencintai hanya sekedarnya.

Dan oleh karena fitrah cinta adalah memilih,
maka Allah yang Maha mencintai pun akan memilih yang terbaik diantara hamba-hambaNya.
dan siapakah yang terbaik diantara hamba-hamba Nya?
ialah dia yang mencintai ALLAH dan rasul Nya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri...

"Yaa ayyatuhannafsul muthma innah irji'ii ilaa rabbiki raadhiyatammardhiyyah. Fadkhulii fii 'ibadii wadkhulii jannatii '

Semoga kita adalah hamba yang terpilih itu

Kamis, 27 Agustus 2009

Satu Pintaku

Satu pintaku Ya Allah
Berikan aku kenikmatan manisnya iman

Dalam mengarungi susah dan senang kehidupan
Dalam melakukan ketaatan dan pengorbanan

Dengan mensyukuri jalan hidayahMu
Dengan mensyukuri nikmat karuniaMu


Dalam sabar menghadapi fitnah
Dalam sabar menghadapi musibah

Dalam menjalani ibadah
Dalam menjalani amanah

Dalam mengokohkan keluarga
Dalam mengokohkan agama

Untuk mempersembahkan sholatku
Untuk mempersembahkan hidup dan matiku

Dalam berhimpun bersama para pembawa kebenaran
Dalam mengorbankan harta dan jiwa pada kebenaran

Dengan hati yang mudah bergetar saat disebut namaMu
Dengan hati yang tenang saat mengingat namaMu

Dengan lisan yang mudah melantunkan ayat-ayat cintaMu
Dengan khusyu saat berdiri, ruku dan sujud kepadaMu

Satu pintaku Ya Allah
Berikan aku kenikmatan manisnya iman

Dengan menghilangkan kesombonganku
Dengan menghilangkan kemalasanku

Dalam melawan hawa nafsu yang menggoda
Dalam melawan dunia yang menggoda

Sehingga merasakan dariMu jalan mudah
Sehingga merasakan dariMu jalan barokah

Dengan jiwa kepadaMu yang takut dan harap setiap saat
Dengan jiwa kepadaMu yang hidup dan penuh semangat

Dalam menanti janji ampunanMu
Dalam menanti janji pertolonganMu
Dalam menanti janji surgaMu

Satu pintaku Ya Allah
Berikan aku kenikmatan manisnya iman

Untuk meraih mulia
Untuk meraih taqwa

Dari lapar dan haus shaum Ramadhanku
Dari rasa peduli dan sodaqoh Ramadhanku

Dari sholat dan syiar Ramadhanku
Dari bait do'a dan zikir Ramadhanku

Satu pintaku Ya Allah
Berikan aku kenikmatan manisnya iman
Selama hidupku ..
Sampai kematianku ...


(by :Yayan Suyanto)

Senin, 06 Juli 2009

Do'a

Ya ALLAH tetapkan azzam ini dalam berjuang di jalan Mu,
Memurnikan ketaatan pada Mu,
Menjunjung tinggi syari'at Mu
dan Mengikuti sunnah rasul Mu

Berikan kepadaku kebaikan yang terus mengalir tiada henti-hentinya
Jika setiap langkah yang ku torehkan ini akan menghantarkan ku pada keridhoan Mu,
mudahkan aku ya ALLAH untuk total berjuang didalamnya
dan menjadikannya sebagai amalan yang kelak akan ku banggakan di hadapan Mu

ALLAH ikhlaskan hati ini untuk mampu memberikan apapun yang Engkau cintai
Rindukan diri ini untuk syahid di jalan Mu
Betapapun banyak harta ku, Betapapun banyak ilmu ku dan betapapun sehat badan ku
Tiadalah arti semua itu jika tidak ku gunakan untuk bermujahadah menggapai ridho Mu.
Takdirkan setiap ilmu, setiap harta dan setiap sisa usiaku menjadi arti bagi peradaban ummat ini.
Sekecil apapun itu adalah secercah harapku untuk dapat menatap indahnya wajah Mu

Wahai dzat yang cintaNya melebihi langit dan bumi,yang kasih Nya tiada bertepi.
Kepada Mu jua diri ini kan kembali, maka kembalikan aku dalam kecintaan yang penuh terhadap Mu.
Hanya pada Mu aku berharap dan hanya pada Mu ku sandarkan segala urusanku
Laa ilaaha illa anta...la haula walaa quwwata illa billaah

---amiiin ya rabbal 'alaamin---

Jumat, 12 Juni 2009

membentuk karakter anak

Baru abis baca tulisan mengenai flu babi dari Dr.Ali Al Hammadi di majalah tarbawi...hmmm. Kembali ujung-ujungnya aku bicara tentang sifat. Umat muslim begitu percaya makanan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sifat seseorang. Meskipun belum ada pembuktian secara ilmiah tapi kita sebagai seorang beriman wajib tunduk dan percaya pada ajaran Islam. Kalo dipikir-pikir secara logika pernyataan ini bisa menjadi benar dan sangat masuk akal. Aku ingat ketika "ngobrol" dengan salah seorang sahabat ku yang kuliah di kedokteran. Bahwa yang namanya dokter ketika melihat bayi yang baru lahir dari panjang dan berat badan aja udah bisa nebak ini anak sifatnya seperti apa, apalagi kalau bayi tersebut prematur.
tapi kalau dihubungkan dengan akhlaq dan makanan.... ya bener juga sih, besar dan berat bayi kan juga awalnya ditentukan dari kondisi orang tuanya selama mengandung, apakah asupan gizinya cukup, apa yang dia makan, bagaimana pola makannya, bagaimana tingkat stressnya, dll. Subhanallah ya...ALLAH emang kasih clue kepada kita tentang segala penciptaannya. Ketika iman sudah sampai ke dasar hati sebetulnya kita tidak lagi membutuhkan penelitian dan statistik untuk membenarkan sebuah teori. Dan inilah sifat dasar ALLAH yang hanya bisa ditembus dan dipahami lewat mata hati.
Penelitian dan statisik hanya dasar untuk mempertegas logika dan ini yang membedakan antara sifat ALLAH dan ciptaannya. "Lam yalid walam yuulad.walam yakullahuukufuwan ahad"....tidak ada satu makhlukpun yang serupa dengan Dia. sifat ALLAH itu tidak terukur dan tidak butuh alat pengukur "ALLAHunuurussamaawati wal ardh" sedangkan sifat ciptaanNya selalu terbatas dan membutuhkan ukuran.

Bicara tentang sifat dan pembentukan karakter seorang anak...aku jadi inget sebuah buku yang berjudul bimbingan psikoterapi Islam. Awalnya aku beli buku ini buat mempelajari tentang bagaimana menjadi seorang therapis yang bukan cuma mengobati fisik yang sakit tapi juga mampu mengobati ruh yang sakit. Tapi ternyata isi nya jauh lebih menarik dari itu semua...kita diajak berfantasi memahami karakter orang bukan hanya dari sisi muamalah (seperti ilmu psikologi pada umumnya) tapi juga memahami karakter orang dari sisi hablumminallah (kedekatan pada ALLAH). Satu hal yang menarik dari cerita di buku ini adalah ketika seorang pasien curhat kepada penulis buku ini tentang kondisi anknya yang selalu melawan orang tuanya. Betapapun nasihat telah dilontarkan bertubi-tubi ternyata tidak ada yang masuk dan menyentuh hati sang anak. Dengan santai si penulis mengajak orang tua tersebut untuk mereview ulang sepak terjang kehidupan mereka. Apakah mereka memulai sebuah pernikahan dari niat yang benar? Apakah ketika menikah kedua orangtua dalam kondosi ridho? Bagaimana sikap mereka terhadap orang tua? Bagaimana pasca menikah...apakah memiliki konsep pendidikan terhadap anak yang jelas? Bagaimana selama ini mereka mendidik anak-anak...apakah sudah sempurna menurut tuntunan islam? Makanan dan pakaian halal kah yang mereka berikan? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang pada akhirnya membuat muka orangtua tersebut memerah karena menahan malu. Bagaimana mungkin menginginkan anak sholeh kalau pola pendidikan tidak sholeh, padahal sekolah pertama buat seorang anak adalah rumah dan kedua orang tuanya.

Aku yang baca aja sedikit tersentak (padahal aku sendiri belum nikah ya hehee...) apalagi yang ngerasain ya... Ternyata memang gak gampang jadi orang tua...menjadi pendidik seumur hidup yang akhirnya hasil didikannya akan dipertanggungjawabkan hingga akhir kelak. Membutuhkan kekuatan ruh yang luar biasa dan itu membutuhkan pembiasaan-pembiasaan sifat baik dan arif yang seharusnya sudah dipupuk jauh sebelum pernikahan itu dimulai. Itu sebabnya Lukman Al Hakim selalu menasehati anaknya untuk selalu bersyukur terhadap kedua orang tuanya karena memang jadi orang tua itu gak gampang. Hikmahnya agar kelak kita pun menjadi orang tua yang disyukuri oleh anak-anak kita (hehehe.... sok tua banget yah).

udah ah...kalau udah ada ide dilanjutin lagi ^_^

Minggu, 31 Mei 2009

hari ini 28 tahun yang lalu

Hari ini tepat 28 tahun yang lalu seorang wanita meringis menahan sakit...pertaruhkan nyawa demi sebuah nyawa. Harap-harap cemas menanti takdir ALLAH yang akan tercatat pada nasib seorang jundi kecil apakah kelak ia benar-benar akan menjadi jundi ALLAH yang setia atau sebaliknya.

"Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wazurriyyaatinaa qurata a'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaama". Sebuah doa yang tak pernah lepas dari mulut wanita tersebut dalam setiap usai shalatnya menjadi bukti harap terhadap jundi kecilnya bahwa dia kelak harus memboyong kedua orangtuanya untuk menuju syurga ALLAH nan Maha luas.

oeeeek....oeeeek...oeeeek tangis seorang jundi memecah keheningan malam yang semula sepi. Senyum bahagia, takbir dan hamdallah saling bersambut dari orang-orang yang berada disekitarnya tak peduli
isak tangis seorang jundi yang seolah menggambarkan bahwa dia sadar akan tugas barunya memikul amanah ALLAH menjadi khalifah di muka bumi setelah 9 bulan merasa nyaman didalam kantung rahim yang terjaga penuh dan tak perlu peluh. Lantunan adzan memasuki telinga kanan dan iqomat ditelinga kiri menjadi ijab qabul yang indah seorang jundi terhadap Tuhannya bahwa dia adalah seorang muslimah. "Asyhadu bi anna muslimuun" dan jundi itu adalah aku.

ya ALLAH ajari aku untuk berterimakasih kepada kedua orang tua ku yang telah mendidik aku untuk menjadi manusia yang takut dan hanya takut kepada-Mu. Terimakasih ya ALLAH atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tua ku.

Rabu, 06 Mei 2009

How to be Wise

Menjadi orang bijak memang tidak gampang...dibutuhkan keleluasaan hati yang luar biasa untuk bisa merekam dan mencerna setiap kejadian. Terkadang kita merasa apa yang kita lakukan sudah cukup bijak tetapi ternyata banyak orang menganggap kita tidak bijak. Membuat orang seperti apa yang kita mau tidaklah mungkin tetapi kita juga punya keterbatasan untuk bisa menjadi apa yang orang mau.

Lalu berjalan pada koridor yang manakah kalimat bijak itu berada?

Sekedar mengingat satu kisah dari Lukman (seorang yang telah dijuluki si Bijak) oleh ALLAH SWT. Suatu hari Lukman bersama anaknya sedang melakukan perjalanan dengan membawa seekor kedelai. Kemudian Lukman meminta anaknya untuk naik keatas punggung keledai dan dia membiarkan dirinya berjalan sepanjang perjalanan yang mereka susuri. Tiba-tiba ditengah perjalanan seseorang berkata pada mereka bahwa betapa tidak berbaktinya anak dari Lukman yang membiarkan orang tuanya berjalan sementara dia sendiri enak-enakan duduk diatas keledai. Mendengar perkataan itu mereka langsung beralih posisi, Lukman duduk diatas keledai dan anaknya berjalan. Ditengah perjalanan selanjutnya seorang berkata kepada mereka bahwa betapa jahatnya Lukman yang membiarkan anaknya berjalan sementara ia enak-enakan duduk diatas keledai. Mendengar perkataan itu akhirnya mereka sepakat untuk menaiki keledai itu berdua, akan tetapi orang ketiga berkata bahwa mereka telah dzhalim kepada keledai karena seenaknya saja menaiki keledai sekecil itu berdua. Akhirnya diputuskan bahwa mereka tidak akan menaiki keledai itu...tapi ditengah perjalanan mereka ditegur oleh orang ke empat dengan mengatakan bahwa Lukman dan anaknya telah bersikap mubazir dan tidak mensyukuri nikmat ALLAH karena membiarkan keledai itu tidak dinaiki.

Cerita ini sebetulnya mengingatkan kita bahwa kecuali Rasulullah SAW, tidak ada orang yang mutlak benar didunia ini. Karena sunatullahnya ALLAH menciptakan kita berbeda untuk saling mengenal. Tinggal bagaimana kita bisa menerima perbedaan itu dengan lapang (mengalah) dan tidak saling memaksakan pendapat. Antara kita dan orang lain adalah bagaikan keping keping sifat yang masing-masing punya kekurangan dan kelebihan. Kalau keping-keping itu disatukan justru akan membawa pada sifat seimbang. Seperti sifatnya unsur unsur dalam kimia yang selalu kekurangan elektron /proton tertentu (kecuali untuk golongan logam mulia...aku selalu menganalogikan unsur-unsur dalam golongan logam mulia adalah unsur-unsur istiqomah yang tidak terpengaruh oleh apapun), ketika antara mereka mau saling berbagi pada akhirnya akan membentuk sebuah ikatan yang begitu kuat. Yah mirip mirip golongan logam mulia dah....Indah bukan?

jadi kalau begitu apakah bisa saya tarik kesimpulan bahwa sebetulnya kunci bijaksana adalah berusaha istiqomah? istiqomah menurut saya tidak berbelah pada apapun, artinya berbanding lurus dengan adil. Adil tercapai manakala tidak ada lagi yang saling interupsi, artinya berbanding lurus dengan ikhlas.

Kesimpulan kedua kalau kunci bijaksana adalah berusaha istiqomah maka jalan menuju istiqomah adalah ikhlas.

Kesimpulan ini sebetulnya juga bukan tidak mempunyai dasar...didalam AL Quran pun telah dijelaskan bahwa ketika syaithan terusir dari surga, dia berjanji untuk menggoda seluruh anak keturunan Adam dari sisi depan, belakang, kanan dan kiri kecuali hamba-hamba ALLAH yang ikhlas. Dalam hal ini syaithan begitu tau bahwa hamba-hamba ALLAH yang ikhlas tidak akan bisa tergoda oleh apapun karena yang dihatinya adalah ALLAH.

Arinya istiqomah itu harus dimulai dari ikhlas dan tidak ada kata bijaksana bagi orang yang plin-plan.

Mengkritisi kebijakan itu mudah
tetapi ternyata berbuat bijak tidak gampang ...banyak sekali kejadian dimana ketika kita pintar mengkritisi orang ternyata ketika kita ditempatkan pada posisi dia...kita juga jatuh bahkan lebih parah. Kenapa terjadi? karena pada hakikatnya ALLAH SWT telah menciptakan manusia dengan intuisinya masing-masing...yang kalau tidak ditempatkan pada posisinya yang terjadi adalah jatuh.
Kalau kita cermati kerap kali
ALLAH SWT berusaha menunjukkan kekuasaanNya kepada kita dengan mengatakan kalimat-kalimat serupa, yang secara tidak langsung sebenarnya dilakukan dengan cara memasuki intuisi manusia yang berbeda-beda itu.
Tahukah kita kalimat-kalimat apa gerangan?
-- Tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi orang-orang yang mau berfikir
-- Tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi orang-orang yang mau mendengar
-- Tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi orang-orang yang beriman
-- Tanda-tanda kekuasaan ALLah bagi orang-orang yang mengerti
-- Tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi orang-orang yang mengetahui
-- Tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi orang-orang yang memahami
-- Tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi orang-orang yang bertakwa
Dan masih banyak lagi

Dalam ilmu psikologi mungkin intuisi intuisi diatas bisa di analogikan dengan gaya belajar seseorang seperti auditori (yang lebih mengandalkan pendengaran), kinestetik (yang lebih banyak "learning by doing"), visual ( yang lebih mengandalkan penglihatan) atau lebih kearah gaya bekerja konverger, diverger, assimilator dan eksekutor. Wallahu a'lam

Hmmmm sebuah tulisan yang sepertinya nggak nyambung dari awal sampe akhir...tapi aku senang karena bisa menarik sebuah kesimpulan khusus dari seluruh koridor pemikiran yang aku tulis ini, bahwa...menjadi orang bijak harus dimulai dengan belajar istiqomah, belajar ikhlas dan belajar mengenal karakter.

ALLAH ajari aku untuk memahami semua ini...

Jumat, 01 Mei 2009

belajar dari seorang pengamen

Kenapa ya...tiba2 aku jadi inget pengamen yang pernah aku temuin dulu jaman kuliah....sepertinya aku harus lebih banyak belajar dari orang-orang seperti mereka. Jadi ceritanya waktu itu aku lagi nungguin temen yang lagi beli makan malem di sebuah warung tenda di pinggir jalan margonda. Tiba-tiba muncul seorang pengamen bertopi yang menyanyikan lagu ebiet g ade. Lagunya lumayan bagus...petikan gitarnya juga halus... menyihir belasan pengunjung warung tenda itu untuk larut dengan tenggelamnya malam secara tidak disadari.

Setelah beliau selesai menyanyikan lagu tersebut...beliau mengangkat topi dan mulai berkeliling kepada setiap pengunjung warung tenda, meminta sedikit saja dari kelebihan rezeki yang sedang mereka nikmati saat itu. Tapi ternyata tidak seorang pun yang memberinya uang termasuk aku karena memang saat itu aku benar-benar gak bawa uang. Sekilas aku melihat kekecewaan pada wajah pengamen tersebut. Tapi sebentar kemudian dia berusaha untuk menutupi kekecewaannya dan bernyanyi warung tenda sebelah kami.

saat itu aku berfikir...sanggupkah aku menjadi dia? yang terus berjalan walau harus dihantam penolakan dengan berbagai alasan (entah karena pengunjungnya gak punya uang lebih, dicuekin karena ngobrol, atau memang pengunjungnya bener-bener pelit)

tapi pengamen itu begitu tegar...dia begitu sanggup untuk menerima penolakan. dia begitu sanggup untuk merendahkan harga dirinya di depan orang banyak. dia begitu sanggup untuk susah, sakit dan kecewa.

Sementara aku...aku begitu sanggup untuk menjadi seorang sarjana...aku begitu sanggup untuk menjadi orang sukses aku begitu sanggup menerima kenyataan hidup itu mudah....sanggupkah aku menjadi dia? Sebetulnya pengamen itu justru lebih hebat dari aku karena pastinya diapun juga sanggup untuk menjadi sarjana, menjadi bos besar di sebuah perusahaan mewah, menjadi orang penting, sanggup untuk hidup layak. Tapi ternyata dia lebih cerdas memaknai hidup dari pada seorang aku yang sebentar-sebentar mengeluh.

Saat itu aku begitu menyadari bahwa secara tidak disadari sebenarnya aku telah menjadikan dunia menjadi thagut dalam diriku..dan perenungan tentang beliau ternyata menjadi cambuk buat diriku sendiri.

tapi kenapa ya... akhir-akhir ini aku merasa begitu nyaman dengan kondisi ku...begitu banyak kemudahan yang ALLAH berikan kepadaku. Bukan aku tidak bersyukur...tapi aku takut jatuh dan terlena dengan kondisi ini, lebih parah lagi kalau aku menjadi takut terhadap masalah.
Sepertinya aku harus banyak merenung yah...ada apa dengan diriku...semoga ALLAH tidak menakdirkan aku seperti abu lahab yang taubatnya tidak diterima oleh Rasul dan para khalifah. Kalaupun ALLAH menakdirkan aku untuk tetap jatuh aku berharap diriku seperti abu darda yang kembali lagi merengkuh cinta ALLAH dalam kenikmatan menjadi zuhud diantara gelimang harta yang dimiliki setelah ia tertipu beberapa saat.


Ah...ALLAH...ajari aku untuk memaknai semua ini


Ketika semua jalan mulai terbuka...Nilai sebuah tantangan menjadi terasa tak bermakna...ALLAH ajari aku untuk bertahan walau seribu pujian menghantam keikhlasan...