Dua tahun telah terlewati N kini memasuki tahun k-3,,
Tak terasa engkau pergi...
Terasa terkadang hampa membekap di diri
Rasa ini tak kan kupungkiri lagi...
Pabila sendiri sunyi,,,,,kuteteskan air mataku,,,,,
Ibu,,,,,jasadmu memang t'lah bersatu dengan bumi
Tapi jiwamu masih hidup dalam sanubariku,,,,
Walau kadang samar menjelang,,, tapi raut wajahmu
Selalu membayang dikalbu anakmu ini,,,,,
Ibu,,,,,sekarang aku t'lah b’tambah dewasa,,,walau tak kau saksikan itu
Ibu,,, terkadang sesal menyesak didadaku,,,,
Saat akhir hayatmu,,,, aku belum berikan kebanggaan padamu
Aku terlalu sibuk ,,,Bu,,,,sibuk dengan ke-aku-an ku
Maafkan aku Bu,,,maafkan anakmu ini,,,,
Ibu,,,,ku tersadar saat kau t'lah jauh pergi
Saat denyut nadimu yang terakhir terasa bergetar di genggam tanganku
Bu,,,,,saat itu ku berharap satu hal,,, engkau hanya pura2 saja
Tak benar2 tinggalkanku,,,, tak benar2 berpisah denganmu
Tapi itu hanya mimpi siang bolong... untuk otak se bodoh aku
aku sadar Bu,,,,,tiada yang abadi di dunia ini
tapi,,,, aku ingin selalu dalam peluk kasihmu,,,,
Dan aku sangat membutuhkan dirimu,,,,tuk selalu sandarkan hatiku selain pd Rabb ku,,,
Ibu... semoga sekarang dapat kau saksikan anakmu ini,,,
Kini t'lah belajar banyak untuk menjaring umur yang semakin berkurang,,,
Semua itu atas didikan darimu Ibu,,,,,
Ibu,,,,jangan risaukan aku ya Bu...
Anakmu ini sekarang ingin membahagiakan dirimu
Dengan apa saja yang bisa diraihnya...
Semata,,,,sebagai persembahan yang tertunda,,,,bagimu,,walaup
Rabu, 28 April 2010
Rabu, 31 Maret 2010
Renungan Indah - W.S. Rendra
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"....
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas ranjang Rumah Sakit)
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"....
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas ranjang Rumah Sakit)
Minggu, 29 November 2009
Emak Ingin Naik Haji
Emak Ingin Naik Haji digarap oleh Aditya Gumay yang mengadaptasi sebuah cerpen berjudul sama yang ditulis oleh Asma Nadia pada 2007. Sebuah film yang mengangkat berbagai nilai religi, sosial, kegigihan, kasih sayang. Di dalam ceritanya menggambarkan kerinduan seorang Emak untuk mendatangi rumah ALLAH, namun tidak punya biaya. Dana bertahun tahun yang beliau kumpulkan pun ternyata tidak cukup sama sekali...sebuah usaha yang mungkin kita anggap akan sia sia belaka. Zein, seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, berusaha untuk mewujudkan segala cita cita emaknya. Dia berkeliling kemanapun, menjual hasil lukisan lukisannya, membantu emak untuk mewujudkan impiannya. Namun dia sendiri tak kuasa untuk bisa mewujudkan impian emaknya. Anaknya yang sakit dan harus masuk rumah sakit justru membuatnya terpaksa untuk memakai biaya naik haji yang sudah dikumpulkan emaknya bertahun tahun.Cerita ini mengandung berbagai kisah yang sebenarnya merupakan pengejawantahan dari apa yang tengah terjadi pada sebagian masyarakat kita. Dalam film ini diceritakan tentang Juragan haji yang dengan mudahnya setiap tahun bolak balik naik haji....lebih parah lagi pak joko yang terpaksa naik haji demi sebuah titel untuk meraup suara pada pemilihan umum. Ironis sekali...
Sebenarnya Emak hampir mendapatkan impiannya ketika ternyata salah satu kupon undian haji yang dikirimkan Zein ternyata mencantumkan no undian emak. Tapi harapan itu pupus ketika zein harus masuk rumah sakit akibat kecelakaan. Emak pun sudah pasrah dan ikhlas . Ada satu kalimat yang paling menyentuh adalah..."Biarpun emak gak bisa ke sana tapi hati emak udah disana....". Tapi justru di saat kepasrahan itu muncul Allah memberikan kejutan pada Emak melalui anak dari juragan haji yang bernazar untuk menghajikan emak apabila anaknya lahir dengan selamat.
Film ini layak dan bahkan harus ditonton siapapun
Kesan : Nilai khas yang bisa saya tangkap dari cerita ini adalah ketulusan dalam sebuah kesederhanaan. Sekedar mengingat kisah ibu saya, cerita ini betul2 mirip (serupa tapi tak sama) dengan ibu saya ketika hidupnya. Jujur...pertama kali saya menonton film ini saya menangis bahkan hampir tak bisa membendung perasaan ini. Karena untuk saya ketika menonton film ini, yang tergambar dilayar kaca bukan lagi sosok ati kanser sebagai pemeran utama, tapi sosok ibunda saya yang dengan setulus hatinya, setiap harinya berusaha untuk membaca buku buku tentang haji, menghafal rukun rukun haji, menghafal doa doanya...bahkan saya pernah beberapa kali tidak sengaja melihat ibu saya menitikkan air matanya ketika melihat ka'bah...walaupun belum terlaksana mudah2an ALLAH sudah mencatatkan niat baik beliau. ALLAH Karim..film ini benar benar menghibur saya akan kerinduan saya pada sosok ibu dan membuat saya bersemangat untuk bisa menabung naik haji
Sabtu, 14 November 2009
“NEGERI PARA BEDEBAH”

oleh Adhie M Massardi
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor
menjatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan !
Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnat-tiba'a wa arinal bathila bathila warzuqnaj-tinaaba
Jumat, 16 Oktober 2009
Masihkah Al Qur an itu Kita Baca ?
Masihkah Al qur an yang bertengger di sudut kamar itu kita baca?
Kita mulai hari kita dengan gairah untuk menciptakan syurga dunia, lantas kita pun menggelinding seperti "buldoser". Semua kita bikin rata, necis dan klimis. Semua kita bikin bersih, benderang, kokoh dan anggun. Setelah itu kita ceburkan diri kita ke...selokan.
Masihkah Al qur an yang bertengger di sudut kamar itu kita baca?
Kita mulai hari kita dengan basmallah. Lantas Allah kita penjarakan dalam kerangkeng emas. Kita 'dikte' Allah semau kita, dan kalau Allah gak mau, kita seperti merasa sangat siap untuk memaksa-Nya
Masihkah Al qur an yang bertengger di sudut kamar itu kita baca?
Kita berjalan, memetik dan menyantap setiap buah khuldi yang bukan kita tanam.
Kita tertawa, mabuk dan terkapar dalam rintih yang panjang.
Kita ini sebetulnya sakit, tapi tak pernah mau mengaku bahwa diri kita ini sakit
Kita ini sebetulnya gila, tapi selalu merasa sangat waras
Kita ini sebetulnya sudah jauh tersesat, tapi merasa yakin berjalan lempang
Kita ini sebetulnya sedang bunuh diri, tapi masih berani gembar gembor sedang membangun.
Kita ini sebetulnya bajingan, tapi selalu tampil sok suci.
Kita ini kecil dan selangkah kemudian kita 'penyek'
Masihkah Al qur an yang bertengger di sudut kamar itu kita baca?
Mungkin kita sudah terlalu lama melupakannya, bahkan mungkin sudah kita anggap tak ada, kita sibuk dengan segala hal yang kita anggap penting. Kita memang sudah lama bingung sejak Al Qur an kita museumkan.Kita memang selalu gamang dalam menghadapi segala urusan, sehingga setiap langkah yang kita ayunkan selalu menimbulkan korban.
Selalu lebih mudharat ketimbang manfaat !!!
Lantas kapan kita akan baca lagi Al Qur an ? setelah sadar bahwa kita sedang berlumpur dalam kubangan?
Kamis, 15 Oktober 2009
Fitrah Cinta
Sungguh kita tak pernah tau kemana akhir perjalanan kita.Masa depan adalah ghaib,
dan itulah cara Allah mencintai hamba-hambaNya,
memberikan kejutan demi kejutan,
agar kita merasa takut dan harap,
agar kita merasa sedih dan gembira.
Semata untuk mengajarkan kita akan arti cinta yang sebenarnya.
Allah begitu bahagia dengan luapan emosi di setiap pencarian kita yang ujungnya adalah Dia.
Oleh karena bukti cinta adalah kecenderungan,
maka fitrahNya sebagai raja menginginkan kita untuk bergantung hanya padaNya.
Dia yang memerintahkan kita untuk menghadapkan wajah ini secara lurus kepadaNya,
agar terbukti siapa diantara kita yang benar benar tulus mencintaiNya,
dan siapa pula diantara kita yang mencintai hanya sekedarnya.
Dan oleh karena fitrah cinta adalah memilih,
maka Allah yang Maha mencintai pun akan memilih yang terbaik diantara hamba-hambaNya.
dan siapakah yang terbaik diantara hamba-hamba Nya?
ialah dia yang mencintai ALLAH dan rasul Nya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri...
"Yaa ayyatuhannafsul muthma innah irji'ii ilaa rabbiki raadhiyatammardhiyyah. Fadkhulii fii 'ibadii wadkhulii jannatii '
Semoga kita adalah hamba yang terpilih itu
Kamis, 27 Agustus 2009
Satu Pintaku
Satu pintaku Ya Allah
Berikan aku kenikmatan manisnya imanDalam mengarungi susah dan senang kehidupan
Dalam melakukan ketaatan dan pengorbanan
Dengan mensyukuri jalan hidayahMu
Dengan mensyukuri nikmat karuniaMu
Dalam sabar menghadapi fitnah
Dalam sabar menghadapi musibah
Dalam menjalani ibadah
Dalam menjalani amanah
Dalam mengokohkan keluarga
Dalam mengokohkan agama
Untuk mempersembahkan sholatku
Untuk mempersembahkan hidup dan matiku
Dalam berhimpun bersama para pembawa kebenaran
Dalam mengorbankan harta dan jiwa pada kebenaran
Dengan hati yang mudah bergetar saat disebut namaMu
Dengan hati yang tenang saat mengingat namaMu
Dengan lisan yang mudah melantunkan ayat-ayat cintaMu
Dengan khusyu saat berdiri, ruku dan sujud kepadaMu
Satu pintaku Ya Allah
Berikan aku kenikmatan manisnya iman
Dengan menghilangkan kesombonganku
Dengan menghilangkan kemalasanku
Dalam melawan hawa nafsu yang menggoda
Dalam melawan dunia yang menggoda
Sehingga merasakan dariMu jalan mudah
Sehingga merasakan dariMu jalan barokah
Dengan jiwa kepadaMu yang takut dan harap setiap saat
Dengan jiwa kepadaMu yang hidup dan penuh semangat
Dalam menanti janji ampunanMu
Dalam menanti janji pertolonganMu
Dalam menanti janji surgaMu
Satu pintaku Ya Allah
Berikan aku kenikmatan manisnya iman
Untuk meraih mulia
Untuk meraih taqwa
Dari lapar dan haus shaum Ramadhanku
Dari rasa peduli dan sodaqoh Ramadhanku
Dari sholat dan syiar Ramadhanku
Dari bait do'a dan zikir Ramadhanku
Satu pintaku Ya Allah
Berikan aku kenikmatan manisnya iman
Selama hidupku ..
Sampai kematianku ...
(by :Yayan Suyanto)
Langganan:
Postingan (Atom)
